Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2009

cover-stf-gitar-tuaDari banyak sumber, termasuk http://www.rajadangdut.com, dinyatakan bahwa film Darah Muda dan Gitar Tua Oma Irama diproduksi pada tahun 1977. Namun belum ada pernyataan film mana yang dibuat lebih dahulu. Akan tetapi, dengan menyimak lagu-lagu pendukung dalam film Gitar Tua Oma Irama, saya menyimpulkan bahwa film Gitar Tua Oma Irama dibuat setelah Darah Muda. Lagu-lagu dalam Gitar Tua Oma Irama lebih baru dibanding lagu-lagu dalam Darah Muda.

Film Gitar Tua Oma Irama dibintangi oleh Rhoma Irama, Yati Octavia,  A. Hamid Arif, Aminah Cendrakasih, Kelly Jones, Netty Herawati, C.J. Beslar, Beng Ito, M. Aminthahir, Hendro, Daeng Hasan Rate, Andi Marga, Umar Bani, Etty Sumiati, Doddy Hayqel, Ade Irawan, Doddy Sukma, Daeng Harris, Norma Maulana, Shanti Pawaka, dan Soneta Group, serta ratusan ribu figuran. Ide Cerita: Rhoma Irama, Supervisor Sutradara/Skenario: Drs. Sjumandjaja, Juru Kamera: Sjam, Pimpinan Produksi M. Aminthahir, Produser : Jackson Arief & Sjamsuddin, dengan Sutradara: Maman Firmansyah. Diproduksi oleh PT Sjam Studio, dengan studio Perfini Jakarta dan Laboratorium: Universal Laboratory Ltd. Hong Kong.

Film Gitar Tua Oma Irama ini bercerita tentang Rhoma dan Ani yang sudah begitu (lebih…)

Iklan

Read Full Post »

peta-bandung2aSeperti telah saya ceritakan dalam Sepanjang Jalan Cihampelas, pada hari Sabtu pagi tanggal 30 Agustus 2008, saya menyusuri jalanan dari Jalan Ciumbuleuit, Cihampelas, Cicendo, Otista, Asia Afrika, Braga, dan Wastukencana. Berikut ini adalah kisah penyusuran saya di sepanjang Jalan Cicendo.

cmb-wastu-aa-14Jalan Cicendo adalah sambungan Jalan Cihampelas pada perempatan dengan Jalan Pajajaran yang memotong Jalan Cihampelas dan Jalan Cicendo. Saat ini, kendaraan dari arah Jalan Pajajaran harus belok ke Jalan Cihampelas atau Jalan Cicendo. Seperti Jalan Cihampelas, Jalan Cicendo juga satu arah lalu lintas. Salah satu ujung Jalan Cicendo dapat dilihat pada foto, yang saya ambil dari ujung Jalan Cihampelas.

Satu bangunan penting di Jalan Cicendo ini adalah Rumah Sakit Mata Cicendo. Sepertinya ini adalah salah satu rumah sakit  tertua di Indonesia.  Rumah Sakit Mata Cicendo terletak di Jalan Cicendo No. 4.cmb-wastu-aa-16 Menurut informasi di webnya, rumah sakit ini diresmikan oleh Gubernur Jenderal J.B. Van Heutsz pada tanggal 3 Januari 1909. Pada awalnya bernama koningen Wilhelmina Gasthuis voor Ooglijders dengan direktur pertamanya dr. CHA Westhoff. Sempat menjadi Rumah Sakit Umum pada zaman pendudukan Jepang tahun 1942-1945, menggantikan posisi Rumah Sakit Rancabadak yang menjadi Rumah Sakit Militer. Kemudian berganti nama sesuai dengan nama jalan dimana rumah sakit ini berada menjadi Rumah Sakit Mata Tjitjendo pada tahun 1980. Rumah Sakit Mata Cicendo merupakan satu-satunya rumah sakit mata milik pemerintah Republik Indonesia yang berada di bawah Direktorat Jenderal Bina Pelayancmb-wastu-aa-17an Medik Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Jalan Cicendo tidaklah terlalu panjang dan tidak banyak gedung atau bangunan yang penting, selain rumah sakit mata tadi. Jalan Cicendo berujung saat bertemu dengan Jalan Kebun Kawung, tidak jauh dari Stasiun Bandung.

cmb-wastu-aa-18

Read Full Post »

peta-bandung2Hampir selalu, ketika saya mengatakan — atau ditanya oleh teman-teman saya di luar Bandung– kalau di Bandung saya kos di Ciumbuleuit, maka mereka masih akan bertanya lagi, dekat mana itu. Biasanya saya jawab, dekat Apartemen. Pertanyaan masih berlanjut, mana itu ya. Ketika saya perjelas lagi, dekat Cihampelas, biasanya mereka akan langsung mengerti, oya? Sepertinya memang nama Cihampelas sudah terkenal kemana-mana. Kalau sudah disebut Cihampelas, maka jelaslah persoalan. Tidak peduli orang itu pernah ke Bandung atau tidak, kalau sudah dengar Cihampelas, beres deh.cmb-wastu-aa000cmb-wastu-aa000

Dulu, sebelum kenal Bandung, saya membayangkan Cihampelas itu nama kampung, atau nama daerah di Bandung. Ternyata bayangan saya tidak terlalu salah, Cihampelas nyatanya adalah nama jalan. Sebenarnya, sejak di Bandung saya sudah seringkali melewati sebagian Jalan Cihampelas ini, baik dengan berjalan kaki maupun naik kendaraan. Sampai pada hari Sabtu tanggal 30 Agustus 2008, di pagi hari,  saya berkesempatan untuk menyusuri Jalan Cihampelas ini dengan berjalan kaki. Dengan berjalan kaki saya seperti merasakan denyut Jalan Cihampelas yang sesungguhnya. Sebetulnya perjalanan saya pada pagi hari itu tidak hanya menyusuri Jalan Cihampelas, tetapi juga berlanjut ke Jalan Cicendo, sebagian Jalan Otto Iskandar Dinata, sebagian Jalan Asia Afrika, sepanjang Jalan Braga, dan sebagian Jalan Wastukencana. Penyusuran saya ke jalan-jalan itu akan diceritakan di kesempatan lain.cmb-wastu-aa00

Jalan Cihampelas saya susuri dari ujung jalan itu yang berada di pertigaan Jalan Cihampelas, Jalan Setiabudi, dan Jalan Ciumbuleuit. Pemandangan di pertigaan itu dapat dilihat pada foto. Foto saya ambil dari arah Jalan Ciumbuleuit. Sebelah kanan adalah ujung Jalan Setiabudi.

Bangunan penting pertama yang terdapat dekat dengan ujung Jalan Cihampelas ini adalah Hotel Nalendra. Tidak berapa jauh juga berada Sultan Plaza yang katanya dulu pernah ramai, tetapi sekarang tidak beroperasi. Saya belum tahu apa yang sebetulnya terjadi dengan plaza ini. Bentuk bangunan Sultan Plaza dari kejauhan dapat dilihat pada foto.

Di depan Sultan Plaza juga ada secmb-wastu-aa-1macam terowongan atau jembatan dimana di bawahnya mengalir air yang cukup besar debitnya. Menariknya air ini menjadi air terjun karena mengalir ke jurang. Saya sering memperhatikan saluran air ini sampai ke muaranya di Sungai Cikapundung di bawah sana, karena tempat kos teman saya, Rudi, berada dekat muaranya itu. Suara bergemuruh kalau kita berjalan di sisi saluran air itu. Saya tidak pernah melihat air ini sampai kering. Sebetulnya air ini saya rasa adalah air buangan.

Selain Hotel Nalendra tadi, di sepanjang jalan Cihampelas juga banyak hotel, di antaranya Hotel Samudera, Hotel Cihampelas 1 dan Hotel Cihampelas 2 , Hotel Puma, Hotel Ashton, Hotel Novotel, dan beberapa hotel lain lagi. Dulu sebelum kos di Bandung saya pernah menginap di Hotel Cihampelas 1.

cmb-wastu-aa-6Bangunan penting lain di Jalan Cihampelas adalah Rumah Sakit Advent, yang terletak di pertigaan Jalan Cihampelas dengan jalan tembus ke Jalan Cipaganti. Saya belum menemukan nama jalan tembus ini. Tampilan RS Advent dilihat dari seberang Jalan Cihampelas dapat dilihat pada foto.

Di sepanjang Jalan Cihampelas juga terdapat beberapa Mall. Selain Sultan Plaza yang sedang tidak beroperasi itu, juga ada Premier Plaza, The Promenade, dan tentu saja yang paling terkenal Cihampelas Walk atau lebih sering disebut Ci Walk.

cmb-wastu-aa-7Jalan Cihampelas juga dilintasi oleh jalan layang (fly over) Pasupati (Pasteur – Surapati). Pemandangan menjelang jalan layang itu dapat dilihat pada foto. Saya pernah juga naik ke jalan layang dari Jalan Cihampelas ini untuk menyusuri jalan layang itu ke arah Jalan Surapati. Jalan layang Pasupati berakhir di dekat Gedung Sate.

Dekat Hotel Novotel, Jalan Cihampelas memotong Jalan Wastukencana di sebelah timur dan Jalan Abdul Rivai di sebelah barat.  Jika Anda dari arah Cihampelas ingin ke BEC (Bandung Electronic Center) maka akan belok kiri di Jalacmb-wastu-aa-13n Wastukencana ini.

Jalan Cihampelas berujung di perempatan Jalan Cihampelas, Jalan Cicendo, dan Jalan Pajajaran. Jalan Cicendo adalah sambungan Jalan Cihampelas. Persambungan ini dipotong oleh Jalan Pajajaran. Pemandangan di perempatan ini dapat dilihat di foto. Foto ini diambil dari ujung Jalan Cihampelas. Di kejauhan tampak Jalan Cicendo.

Read Full Post »

Menyusuri Saritem

Sudah lama aku berkeinginan untuk suatu saat, tidak hanya mengetahui dimana letak Saritem, tetapi menyaksikan secara langsung keadaan di sana. Nama Saritem tidak hanya terkenal di Bandung, tapi sering disebut-sebut bahkan konon sampai ke luar negeri. Bagaimana sih tampilan wilayah kota Bandung yang disebut Saritem?

Senin pagi, 26 Januari 2009, aku dan Rudi, merencanakan untuk menyusuri jalan Kebonjati. Jalan ini sebetulnya paralel dengan Jalan Sudirman yang sudah kami susuri sebelumnya. Tetapi karena Jalan Kebonjati ini kuperkirakan dekat dengan Saritem, mulanya aku belum tahu pasti letak Saritem, masih mengira-ngira dari informasi yang kubaca, lewat telepon aku mengajak Rudi untuk sekalian mencari tahu dan juga menyusuri Saritem. Usulanku ini disetujui Rudi. Kami lantas janji ketemu di Terminal Stasiun Hall.

Sekitar jam 08.25 angkot trayek Ciumbuleuit – St Hall yang kutumpangi sampai di tujuan. Tidak lama kemudian Rudi datang. Kami memulai perjalanan ini dari Stasiun Hall karena ujung Jalan Kebonjati berada persis di sebelah terminal ini. Kisah lengkap penyusuran Jalan Kebonjati ini akan diceritakan di lain kesempatan. Kali ini fokus cerita adalah penyusuran kami ke Saritem.saritem1

Dari terminal Stasiun Hall kami menyusuri jalan Kebonjati sampai ke perempatan, dimana Jalan Kebonjati, dipotong oleh Jalan Gardujati ke sebelah kiri dan Jalan Pasirkaliki (Jalan Cokroaminoto) di sebelah kanan. Setelah bertanya kepada seorang tukang beca, kami dapat informasi bahwa Saritem adalah nama jalan kecil yang berada di jalan Gardujati. Kami lantas belok kiri.

Sekitar 50 meter memasuki jalan Gardujati kami tertarik dengan bunyi sebuah papan informasi yakni “Dilarang Menyediakan Rumah Untuk Berbuat Asusila” yang berada di mulut sebuah gang, di seberang jalan. (lebih…)

Read Full Post »

CIO Friendship Songs

1. Dionne Warwick, Stevie Wonder and Friends – That’s What Friends Are For
2. Rhoma Irama – Sahabat

1. You’ve Got a Friend – Billy Crawford

1. You’ve Got a Friend – James Taylor – 1971
2. Thank You for Being a Friend – Andrew Gold – 1978.
3. Lean On Me – Bill Withers – 1972
4. I’ll Be There for You – The Rembrandts – 1995
5. That’s What Friends Are For – Dionne Warwick and Friends – 1986
6. Wind Beneath My Wings – Bette Midler – 1989
7. With a Little Help From My Friends – Beatles – 1967
8. Ben – Michael Jackson – 1972
9. Umbrella – Rihanna – 2007

Friends Will Be Friends – Queen

Brothers -Teman Sejati

Rhoma Irama – Kerudung Putih
Rhoma Irama – Kata Pujangga

Read Full Post »

punclut-12Minggu pagi, 21 Desember 2008, cuaca cerah di Ciumbuleuit. Kuliah lagi libur habis UAS. Beberapa teman pulang kampung. Aku tidak pulang karena memikirkan tesis, maunyaku biar lebih bisa konsentrasi. Tapi itu tidak sepenuhnya benar, aku tetap saja belum bisa enjoy mengerjakan tesis.

Untuk mendapatkan suasana baru, pagi itu aku coba mencari alternatif sarapan selain di Warung Gemboel langgananku. Waktu keluar gang Suhari, aku teringat Punclut pada Minggu pagi seperti ini sangat ramai. Mungkin ada sarapan yang lebih menggairahkan disana. Dengan pikiran seperti itu aku naik angkot ke Punclut.

Karena masih pagi sekali, belum jam 06.00 Punclut belum begitu ramai. Di jalan masuk ke Punclut dari Jalan Ciumbuleuit para pedagang masih (lebih…)

Read Full Post »

darah-mudaInformasi dari berbagai sumber, termasuk http://www.rajadangdut.com, menyatakan bahwa ada dua film Rhoma Irama yang dibuat pada tahun 1977, yaitu Darah Muda dan Gitar Tua Oma Irama. Saya dulu pernah nonton kedua film itu waktu masih remaja tanggung, tapi saya sudah tidak ingat persis mana film yang lebih dulu. Dalam DVD koleksi film Rhoma Irama tidak ada informasi tahun produksi film-film ini. Akan tetapi, setelah menyimak ulang lagu-lagu yang ditampilkan dalam kedua film ini, saya menyimpulkan Darah Muda adalah film kedua Rhoma Irama, setelah Oma Irama Penasaran yang diproduksi tahun 1976.

Film Darah Muda dibintangi oleh Rhoma Irama, Yati Octavia, Ucok AKA Harahap, Joesoef Abdoelah, Sisca Karabetty, Cema Shanti Samara, Soenaryo, Yusfani, Yetty Loren, Tuty Maryaty, Toto Subardjo, Lina Budiarty, Yadi AR, Yuscano, Oteng Lie Priadi, Hasbullah, Otong, Umar Bani, dll. Ada juga bintang tamu Citra Dewi, serta penampilan khusus Rita & Group Soneta. Juru Camera Sjam, D. Hasan Rate, Eugene H. Penata lampu: Anthony Suwandi, Mimi Beff, Krishna, dan Adnan.  Sutradara Maman Firmansyah. Produser Jackson Arief dan Sjamsuddin.

Alur film menceritakan tentang Rhoma dan Ricky, (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »