Saat sholat Maghrib di Masjid Raudatul Ibadah (masjid terdekat ke rumahku) pada tanggal 1 Januari 2011 untuk kedua kalinya sejak pulang dari Tanah Suci (8 Desember 2010) aku merasa seperti sedang berada di Padang Arafah/Mina. Sensasi pertamanya pada tanggal 18 Desember 2010, juga saat sholat Maghrib di Raudatul Ibadah. Betapa tidak, karena imam sholat adalah Uztadz Jailani Mawardi.
Saat melaksanakan ibadah haji (lebih kurang 40 hari), petugas kloter terdiri dari Ketua Kloter, Pembimbing Ibadah, Dokter, dan Tenaga Medis 2 orang. Yang bertugas sebagai Pembimbing Ibadah adalah Ustadz Jailani Mawardi. Pada banyak kesempatan sholat, beliau menjadi imam, seperti di pesawat udara, di bandara Jeddah, di hotel/apartemen Mekkah, saat wukuf di Arafah, dan selama 3 hari berada di Mina. Tapi diantara beliau menjadi imam pada sholat-sholat itu, yang paling berkesan adalah saat berada di Arafah dan Mina. Suara bacaan sholat beliau yang khas sangat mengesankan. Menjadi makmum beliau, rasanya sholatku menjadi ibadah yang begitu menarik.
Dalam perjalanan pengalaman hidupku, tidaklah banyak imam yang membuat sholatku jadi begitu indah. Ada yang bacaan fatihahnya terasa kurang menarik, pilihan ayatnya terasa terlalu panjang, gerakan sholatnya terasa terlalu lambat atau terlalu cepat. Tapi saat imam adalah Ustadz Jailani Mawardi, semua bacaan, pilihan ayat, gerakan, terasa pas, indah, dan mengesankan.
Aku tidak dapat menjelaskan kenapa? Bacaan Fatihah beliau sebetulnya tidaklah terlalu merdu, masih ada imam lain yang lebih merdu. Pilihan ayatnya juga biasa-biasa saja. Mungkinkah seseorang memang ditakdirkan jadi imam kaumnya. Imam yang pas itu sepertinya memang dilahirkan.
